Pendidikan Gratis untuk Buruh di Citeureup

Tidak di semua tempat, pendidikan dianggap sebagai prioritas. Dengan berbagai pertimbangan, ada yang menilai pendidikan dapat dinomorduakan. Setidaknya, itulah yang terjadi di kawasan Citeureup, Kabupaten Bogor.

Di Citeureup, masyarakat masih memprioritaskan kebutuhan ekonominya. Mereka yang tinggal berdekatan dengan kawasan industri memilih menjadi buruh pabrik selepas lulus SMP. Ditambah lagi, di sekitar tempat mereka, tidak ada institusi pendidikan untuk mereka melanjutkan pendidikan.

“Kalaupun ada yang melanjutkan, kesempatan untuk belajarnya itu yang sulit. Pilihan mereka terbatas,” kata Kepala Sekolah sekaligus Pemilik Yayasan Puspa Mekar Iis Nurrita.

Lulusan SMP itu, kata Iis, biasanya menjadi buruh harian dengan penghasilan tidak lebih dari Rp 40.000. Jam kerjanya bisa melampaui 20 jam. Namun kemudian, Yayasan Puspa Mekar memberikan kesempatan tersebut dengan menjadi sekolah induk bagi SMA Terbuka Puspa Mekar dan SMK Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Puspa Mekar.

SMK Swasta Puspa Mekar adalah salah satu sekolah induk untuk SMK PJJ yang terletak di Gunung Sari, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
SMK Swasta Puspa Mekar berdiri di tengah kampung di mana tingkat pendidikan masyarakatnya masih kurang. Iis menceritakan awal mula berdirinya sekolah Puspa Mekar. Diakui Iis, memang tidak mudah mendirikan sekolah di tengah masyarakat yang seperti itu, menurutnya. Apalagi, untuk faktor ekonomi sekolah, seluruh pembiayaan merupakan uang pribadi, sehingga pembangunan sekolah pun hingga kini masih dilakukan secara bertahap.

Tapi usaha memang tidak mengkhianati hasil. Sejak didirikan, kurang lebih lima tahun lalu, Iis mendapatkan hasil yang memuaskan. “Banyak masyarakat yang mulai semangat untuk menempuh pendidikan. Apalagi, saat pemerintah meluncurkan program SMA Terbuka dan PJJ pada SMK,” ujarnya.


Iis yang melihat peluang besar, menurutnya program ini sangat baik dan dapat lebih mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. SMA Terbuka dan PJJ pada SMK ini merupakan program pemerintah dengan target masyarakat tidak mampu yang kesulitan meneruskan pendidikan. Contohnya adalah untuk masyarakat yang harus bekerja sehingga tidak ada waktu untuk mengikuti program sekolah reguler. SMA Terbuka dan SMK pada PJJ ini berjalan dengan sistem pendidikan jarak jauh menggunakan media daring dan sistem belajar mandiri. Para pengusaha pun antusias untuk berpartisipasi setelah ditawarkan untuk bekerja sama.

Saat ini, SMK Puspa Mekar menawarkan kerja sama program PJJ pada SMK dan membuka kelas Puspa Mekar di dalam industri. Ada empat perusahaan di antaranya PT Indonesia Wacoal dan PT. Ricky Putra Globalindo.
Peserta didiknya adalah buruh yang bekerja di masing-masing perusahaan dengan usia maksimal  21 tahun.

Proses pembelajaran SMK
 PJJ  Puspa  Mekar pun tidak ada bedanya dengan reguler. Menurut Iis, dari mulai pemberian tugas, hingga sistem penilaian disamakan dengan sistem reguler.
Jurusan  atau  peminatan yang disediakan oleh SMK PJJ Puspa Mekar adalah  jurusan teknik informatika dan tata busana. Sedangkan proses pembelajaran dilakukan setiap hari dimulai dari jam 7 malam dan berakhir pada jam 10 malam. Setiap perusahaan menyediakan tempat yang akan dipakai proses pembelajaran tatap muka dalam tiga bulan sekali atau bisa satu bulan sekali jika ada yang mendesak. Sedangkan sisanya, proses pembelajaran dilakukan melalui grup Whatsapp.

Antusias siswa SMA Terbuka dan SMK PJJ menurut Iis, lebih besar jika dibandingkan dengan siswa reguler. Apalagi pemerintah menggratiskan program ini, sehingga siswa tidak dibebani biaya pendidikan sepeser pun.

“Antusiasnya bagus banget, bagus sekali. Malah lebih semangat yang SMA Terbuka dan SMK PJJ dibandingkan dengan sekolah reguler. Nilai lebih bagus yang SMA Terbuka dan SMK PJJ. Mungkin karena waktunya udah sedikit terus kerja, dia punya cita-cita ingin punya ijasah, motivasinya lebih tinggi dibandingkan anak reguler,” jelas Iis.

Kini masyarakat terbantu, mereka akan tetap bisa bekerja untuk menghidupi keluarga dan tetap bisa menempuh pendidikan demi masa depannya. (*)