Siti Maspupah, Guru Asal Cianjur yang Mewakili Indonesia ke Korea

BANDUNG - Ingin selalu selangkah lebih maju dari diri sendiri. Kata-kata tersebut yang memotivasi Guru Bahasa Inggris di SMK Negeri Pertanian Pembangunan Cianjur, Siti Maspupah untuk selalu berprestasi. Guru yang akrab disapa Iie ini, merupakan satu-satunya guru tingkat SMA/SMK yang menjadi perwakilan program pertukaran guru Indonesia-Korea Teacher Exchange Programme.  

“Saya selalu ingin mencoba hal baru
. Saya berprinsip jangan pernah berhenti mencoba, kalau pun gagal ya dicoba lagi” ujarnya saat dihubungi pada Kamis, (25/1/2018).


Program pertukaran guru ini merupakan kerjasama antara Kementerian Pendidikan Korea, menunjuk Asia Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU), dengan pengawasan UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai pihak yang menjalankan program, dan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemdikbud).
Dari 10 guru Indonesia yang berangkat ke Korea, hanya Iie yang merupakan perwakilan dari tingkat SMA/SMK se Indonesia. Iie dan seluruh guru perwakilan Indonesia bertugas mengajar selama kurang lebih tiga bulan di Korea, terhitung pada 9 September hingga 6 Desember 2017. “Misinya lebih kepada budaya sebetulnya,” ujarnya.

Lie menuturkan, motivasinya mengikuti program ini adalah untuk lebih mengetahui pembelajaran di luar negeri. Apalagi menurutnya, Korea merupakan salah satu negara yang memiliki pendidikan cukup baik. Selain itu, misi utama program ini pun, tak lain adalah untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke Korea.

“Saya mendapatkan sebuah pembelajaran saat saya berada di sana. Saya menjadi lebih mencintai budaya Indonesia khususnya Jawa Barat, karena negara kita memang sangat kaya budaya jika dibadingkan negara lain,”katanya.

Ia menyebutkan, banyak hal dari kebiasaan pendidikan di Korea yang bisa diterapkan di Indonesia, salah satunya pendidikan karakter. Pendidikan ini salah satunya melalui penerapan budaya antri, hingga tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, untuk metode pembelajaran, hal yang bisa dijadikan masukan untuk pendidikan di Indonesia adalah dengan metode Open Class.

  
“Mengajar sambil dilihat oleh orang tua, teman atau guru lain. Jadi, guru bisa lebih temotivasi untuk mengajar dan belajar dengan lebih baik,” jelasnya.

Menjadi Guru Akibat “Kecelakaan”

Pada 2015, Iie terpilih menjadi guru berprestasi di Cianjur. Pada tahun yang sama, Ia juga mengikuti kompetisi Guru Berprestasi Tingkat Provinsi dan menjadi peringkat ke-6 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi. Selain itu, pada 2016, Iie ditugaskan oleh Kepala Sekolah untuk mengikuti Guru Berprestasi Tingkat Kementerian Pertanian (Dulu SMK Negeri PP merupakan Sekolah Pertanian Menengah Atas di bawah Kementerian Pertanian). Pada kompetisi tersebut, Iie mendapatkan peringkat ketiga sebagai Tenaga Pendidik Berprestasi.

Siapa sangka, Lie yang merupakan guru berprestasi ini rupanya terjun ke dunia pendidikan secara tidak sengaja. Perempuan kelahiran Cianjur ini awalnya merupakan seorang penyiar radio di Cianjur. Hingga kemudian, ia mencoba mengajar di SMK Negeri PP Cianjur dan mulai  merasa nyaman menjadi guru.

“Sebenarnya saya itu “kecelakaan” menjadi guru. Ketika saya mencoba mengajar, ternyata mengajar di SMK itu menyenangkan, hingga kini saya sangat menikmati menjadi guru,” ujarnya sumringah.    


Kini, Iie sedang menggarap satu buku tentang pengalaman hidupnya. Kelak, ia ingin buku ini memotivasi banyak orang, khususnya mengenai motivasi untuk selalu berusaha dan pantang menyerah.