Revitalisasi Pendidikan Vokasi Agar Lebih Sinergis dengan Kebutuhan Industri

BANDUNG - Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemdikbud) menyelenggarakan Forum Dialog Pendidikan dan Kebudayaan dengan tema "Revitalisasi Pendidikan Vokasi Mendukung Kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri". Kegiatan ini dilaksanakan di SMKN 9 Bandung, Jalan Soekarno Hatta No. Km 10, Jatisari, Buah Batu, Kota Bandung, pada Kamis(1/3/2018).

Pembicara yang mengisi dialog ini adalah Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi, Kepala BKLM, Ari Santoso, Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud, M. Bakrun dan Perwakilan Dunia Usaha dan Dunia Industri, Deddy Surachman. Peserta berasal dari Guru, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, embaga masyarakat bidang pendidikan dan kebudayaan hingga media.

Dalam dialog tersebut, Hadadi memaparkan pemerintah selalu mendorong sekolah untuk berkembang, salah satu caranya adalah dengan memberikan bantuan-bantuan, baik untuk sekolah maupun untuk siswa. Selain itu, pemerintah memfokuskan peningkatan kesejahteraan guru, agar guru lebih nyaman dan semangat dalam mengajar. Hal ini akan berdampak pada kualitas siswa SMK.


Menurutnya siswa SMK harus dipersiapkan secara matang agar mudah beradaptasi dalam menghadapi dunia kerja. Apalagi, kini sudah banyak dunia industri yang tertarik dengan lulusan SMK. Dalam hal ini, tidak hanya siswa yang harus mempersiapkan diri, akan tetapi pemerintah juga harus konsisten dalam mendorong sekolah untuk meningkatkan komunikasi dan menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan.

"Secara umum kami memperkuat pendidikan SMK, salah satunya dengan mendorong sekolah menjalankan komunikasi, serta peningkatan kerjasama dengan dunia industri,” ujarnya.

Sementara itu, di sela-sela sambutannya, Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud, M. Bakrun menyampaikan bahwa siswa SMK  dinilai sudah siap bekerja langsung di industri. Yang menjadi kelemahan dari siswa SMK adalah beberapa hal teknis yang dihadapi oleh perusahaan yang memagangkan siswa SMK tersebut.
Menurutnya, jumlah dumrasi magang tiga bulan yang ditetapkan sekolah terbilang tanggung. Apalagi siswa yang sudah bagus dalam bekerja, harus kembali ke sekolah untuk mengikuti ujian sekolah.

"Sudah tiga bulan magang, siswa harus pulang kembali ke sekolah, harus mengikuti ujian. Sehingga industri pun harus menerima anak magang baru dan mengajarkannya dari awal lagi. Dan ini yang membuat pihak industri kewalahan. Tidak hanya saya, beberapa industri pun mengeluhkan hal yang sama," ujarnya.

Selain itu, beberapa hal yang menjadi sorotan dalam dialog ini adalah menutup jurusan SMK yang sudah jenuh dan membuka jurusan SMK sesuai dengan kebutuhan industri. Beberapa jurusan yang sudah jenuh diantaranya Teknik Kendaraan Ringan, Administrasi Perkantoran, Teknik Komputer Jaringan, dan lain-lain.