Bangun Karakter Siswa Mengenai Sanitasi, LIPI Terapkan Toilet Pengompos
Membangun karakter siswa mengenai sanitasi, LIPI menerapkan toilet pengompos di SD 210 Babakan Sinyar, Jln. Kiaracondong, Kota Bandung, Senin (26/8/2019).
Bangun Karakter Siswa Mengenai Sanitasi, LIPI Terapkan Toilet Pengompos
Oleh Riska Y. Imilda
26 Agustus 2019, 16:38 WIB    293 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR - Membangun karakter siswa tentang sanitasi dan kebersihan rupanya masih sulit dilakukan. Terlebih, masih banyak sekolah yang tidak menjamin sanitasi di lingkungan sekolahnya. Melihat fenomena ini, Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI) menerapkan toilet pengompos kepada siswa agar terbangun karakter siswa di bidang sanitasi.

Pengembangan toilet pengompos yang mencampurkan tinja dengan serbuk gergaji atau sekam ini, digelar di SD Negeri 210 Babakan Sinyar Kiaracondong, Kota Bandung. Sekolah yang terletak di tengah permukiman padat peduduk itu, juga termasuk lingkungan yang kerap kekurangan air bersih.

Kekurangan air bersih merupakan masalah utama dalam sanitasi. Oleh karena itu, LIPI mencoba memberikan inovasi baru yang didukung Research Institute for Humanity and Nature (RIHN) Jepang. Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih, Neni Sintawardani mengatakan, memperkenalkan toilet pengompos kepada siswa akan membawa dampak yang baik bagi siswa tersebut.

“Selain itu, mereka juga bisa belajar mengenai perilaku hidup bersih dalam menangani pembuangan kotoran manusia agar bisa meningkatkan kesehatannya,” ujarnya, saat diwawancarai usai acara "Soft Launching Penerapan Teknologi Toilet Pengompos dan Sosialisasi Potensi Pemanfaatannya" di SD 210 Babakan Sinyar, Jln. Kiaracondong, Kota Bandung, Senin (26/8/2019).

Dengan adanya sanitation and value chains (sanitasi dan rantai nilai), lanjutnya, pengembangan kompos toilet ini akan menahan tinja agar tidak terbuang langsung ke sungai yang mengakibatkan pencemaran. Kemudian, toilet pengompos akan diubah dari kotoran menjadi pupuk kompos. Di sini, toilet mempunyai sistem toilet kering.

“Maka dari itu, toilet ini sangat cocok digunakan di kawasan yang kurang air bersih, seperti di daerah SDN 210 Babakan Sinyar. Pasalnya, diusahakan tidak tercampur air karena bila tercampur air akan menimbulkan bau tak sedap,” jelasnya.

Neni mengungkapkan, toilet tersebut menggunakan prinsip layaknya black box. Bila umumnya toilet memiliki saluran air dan pembuangan atau flush, tetapi tidak dengan toilet ini. Kotoran dari  toilet ini tersimpan dalam kotak yang sudah berisi serbuk gergaji atau sekam sebagai penangkap material. Setelah didiamkan selama tiga bulan atau lebih, material tersebut bisa digunakan sebagai kompos. "Namun, di sekolah setiap toilet hanya bisa menampung 20 hingga 25 kotoran dari buang air besar (BAB) dan sebebasnya dari buang air kecil (BAK)," tuturnya.

Dari kotoran yang terkumpul, tambah Neni, akan diolah kembali untuk pupuk tanaman setelah mencapai waktu yang ditentukan. Di sini, siswa dan pihak sekolah bisa berpikir ekonomis karena kotoran yang biasanya ditinggalkan begitu saja, ternyata bisa membantu para petani karena menghasilkan pundi-pundi yang menguntungkan.

“Banyak persoalan yang ditimbulkan apabila kita menggunakan toilet pada umumnya. Seperti, masalah ketersediaan air bersih, biaya tinggi membuat septic tank, pasang pipa air bersih, dan pasang pipa air kotor atau saluran pembuangan mampet yang bau dan tampak kotor,” paparnya.

Adapun masalah tak langsung, tambah Neni, yakni pengotoran badan sungai, kontaminasi sumur warga, kekurangan air untuk membersihkan, menimbulkan penyakit diare serta berpotensi meningkatkan angka stunting pada balita. "Maka dari itu, toilet akan dipasang dengan posisi duduk. Karena, posisi duduk selain terjaga arahnya juga terjaga kebersihannya. Sistem pemisah BAB dan BAK memungkinkan urine dipisahkan dari BAB," jelasnya.

Sementara itu, Kepala SDN 201 Babakan Sinyar, Meni Sumiati mengaku terkejut sekaligus bahagia sekolah yang ia bina menjadi tempat menerapkan sanitasi toilet kompos. “Tentunya ini akan membuka wawasan yang lebih luas, tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain. Hal ini juga bisa menanamkan karakter yang baik kepada siswa,” ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, melihat teknologi pengompos merupakan proyek andalan, bagaimana hasil sekresi siswa bisa dijadikan pupuk kompos. Juga sebagai penerapan sosial sanitasi dan manajemen pembelajaran serta penerapan sosial kepada peserta didik.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar