Pendekatan Pribadi, Preventif Dini Cegah Stres pada Anak
Pendekatan pribadi, preventif dini cegah stres pada siswa.
Pendekatan Pribadi, Preventif Dini Cegah Stres pada Anak
Oleh Riska Y. Imilda
11 September 2019, 09:40 WIB    62 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR — Jiwa remaja yang rentan terpengaruh pada hal-hal negatif menjadi fokus utama tenaga pendidik untuk mencegah siswa stres dalam kegiatan pembelajaran. Mengingat tidak sedikit remaja yang mengalami penurunan psikologis, memutuskan mengakhiri hidupnya dengan mudah.

Indonesia sendiri tergolong salah satu negara yang duduk di peringkat 159 sebagai negara yang melakukan bunuh diri terbanyak. Berdasarkan data yang terekam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat pada 2012, terdapat 804.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, dengan tingkat kematian tertinggi ditemukan pada usia 20 tahun.

Sedangkan di Indonesia, prevalensi bunuh diri pada 2016 sebanyak 1 orang per jam. Namun, hal ini masih belum bisa dipastikan karena di Indonesia tidak ada alat pengukur pasti untuk menghitung angka bunuh diri.

Pada prinsipnya, persoalan mengenai bunuh diri bisa dicegah melalui pendekatan psikologis. Mereka yang memiliki niat bunuh diri, biasanya akan terlihat melalui perubahan perilaku. Hal ini sebenarnya bisa dirasakan oleh orang-orang sekitarnya.

Menurut psikiater Nova Riyanti Yusuf, dominan remaja yang melakukan bunuh diri disebabkan depresi. Adapun gejala-gejala yang kerap terlihat, di antaranya kehilangan minat dan semangat, gangguan tidur, hilangnya nafsu makan hingga prestasi menurun.

“Sebagian besar remaja menjalani hidup dengan kondisi depresi. Faktor pemicunya, antara lain media sosial, permainan daring, merasa prestasi lebih rendah dari yang ditargetkan, dan mendapat penolakan dari lingkungan pertemanan,” ujar Nova, seperti dilansir dari Kompas, Selasa (10/9/2019).

Menilik peristiwa bunuh diri yang terjadi pada kalangan remaja, guru Bimbingan Konseling Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Bandung, Soni Aida mengatakan, pihak sekolah gencar melakukan pencegahan dengan berbagai cara. Di antaranya, melakukan pendekatan dengan sang anak melalui konseling individu, menjalin komunikasi rutin, memberikan penjelasan mengenai dampak buruk bunuh diri hingga melibatkan wali kelas serta orang tua siswa untuk ikut mendampingi dan menasihati anak.

“Ini hampir terjadi di sekolah kami. Tetapi, dengan sigap kami melakukan berbagai tindakan. Dimulai dengan memanggil sang anak dan memancingnya untuk menceritakan masalahnya. Setelah itu, kami meminta pertolongan psikiater,” ujar Soni Aida saat diwawancarai, Rabu (11/9/2019).

Soni mengakui, menangani masalah pribadi siswa bukanlah hal yang mudah. Perlu ada penanganan dan pendekatan khusus. Pihak sekolah selalu melakukan tindakan preventif agar permasalahan tidak berlanjut dan bisa segera diatasi.

Begitupun dengan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 12 Bandung. Staf Humas SMKN 12 Bandung, Dini Juwita mengatakan, pihak sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk menceritakan masalahnya kepada guru bimbingan konseling (BK). Selain itu, dilakukan konseling setiap minggu di kelas. “Langkah ini guna memberi kesempatan kepada sang anak untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Terkadang, kami menjadi guru sekaligus teman buat anak-anak agar nyaman bercerita,” ujar Dini.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar