Insinyur Indonesia Diakui Dunia
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir.
Insinyur Indonesia Diakui Dunia
Oleh Nizar Al Fadillah
11 September 2019, 13:46 WIB    27 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR - Sebanyak 32 program studi keinsinyuran, seperti teknik sipil di berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah terakreditasi internasional. Dengan demikian, kompetensi insinyur dari Indonesia mendapatkan pengakuan legal formal dari organisasi profesi insinyur dunia yang berada di bawah naungan Washington Accord.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengapresiasi prestasi tersebut. Menurutnya, lembaga akreditasi program studi (prodi) teknik nasional, yakni Indonesian Accredition Board for Engineering Education (IABEE) kini setara dengan lembaga akreditasi dunia. Hal tersebut secara signifikan dapat meningkatkan kualitas insinyur lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Ia menjelaskan, pembangunan nasional sangat membutuhkan keterlibatan banyak insinyur yang bermutu. Ia mendorong semua program studi yang memiliki organisasi profesi untuk mengikuti langkah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang berhasil membawa lembaga akreditasi mandiri IABEE ke tingkat dunia.

"Saya memberikan apresiasi kepada PII yang telah memiliki lembaga akreditasi mandiri untuk pendidikan dan sertifikasi profesi keinsinyuran. Tidak hanya skala nasional, tapi juga internasional. Saya berharap, kontribusi PII kepada negara dapat diikuti lembaga profesi lainnya," ujarnya saat menghadiri Kongres Luar Biasa dan Rapimnas PII di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, Senin (9/9/2019) seperti diwartakan Pikiran Rakyat.

Nasir menegaskan, organisasi profesi berperan penting bagi peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) nasional. Khusus untuk insinyur, PII diharapkan mampu menyiapkan insinyur-insinyur muda yang sarat kompetisi di era revolusi industri 4.0.

Sementara itu, Ketua Umum PII yang juga menjabat Chairman of Asean Federation of Enggineering Organization (AFEO), Heru Dewanto mengungkapkan, insinyur Indonesia saat ini memasuki era tranformasi setelah disahkannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019 yang merupakan turunan dari undang-undang tersebut.

"Penerbitan peraturan pemerintah membawa horizon baru bagi profesi insinyur. Ini bukan hal baru, tetapi Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dari negeri lain. Kalau di Malaysia, mereka sudah lama punya sertifikasi praktik keinsinyuran," ungkap Heru.

Dengan adanya UU dan PP keinsinyuran, lanjutnya, profesi insinyur kini tak lagi menjadi monopoli mereka yang bergelar sarjana teknik. Lulusan D-4 keteknikan juga bisa menyandang gelar insinyur profesional, bahkan diakui dunia intermnasional.

"Sertifikasi yang dijalankan PII sudah disertakan di tingkat ASEAN dan Asia Pasifik. Artinya, mereka yang sudah mendapatkan sertifikat insinyur profesional madya dianggap setara dengan insinyur di ASEAN dan seluruh negara-negara Asia Pasifik. Ini gerbang insinyur menuju panggung internasional," katanya.

Ia menjelaskan, PII mulai bekerja mencetak insinyur-insinyur baru, meskipun jumlahnya masih kalah dari negara lain di Asia. Dari data yang dimiliki PII, jumlah insinyur di Indonesia sebanyak 2.671 per satu juta penduduk. Jumlah tersebut masih kalah dari Malaysia yang memiliki 3.000 insinyur, Vietnam (5.000), dan Tiongkok (10.000).***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar