Guru SLBN Cinta Asih Raih Juara I Kompetisi Inovasi Jabar 2019
Guru SLBN Cinta Asih Kabupaten Bandung, Dini Handayani meraih juara I Kompetisi Inovasi Jawa Barat 2019.
Guru SLBN Cinta Asih Raih Juara I Kompetisi Inovasi Jabar 2019
Oleh Nizar Al Fadillah
28 Oktober 2019, 19:52 WIB    840 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR - Guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cinta Asih Kabupaten Bandung, Dini Handayani meraih juara I Kompetisi Inovasi Jawa Barat 2019. Penyerahan hadiah diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam acara "Youth Inovation Summit" yang digelar di Gedung Youth Center, Jln. Pacuan Kuda No. 15b, Kota Bandung, Senin (28/10/2019).

Dini berhasil menyabet juara I karena sukses menciptakan Indonesian Deaf and Blind Comunication (IDBC) System, yakni pengembangan sistem komunikasi  bagi siswa tunanetra dan tunarungu agar bisa saling berinteraksi.

Dini menjelaskan, IDBC System merupakan sistem komunikasi untuk siswa tunanetra dan tunarungu melalui metode taklif atau sentuhan dengan memanfaatkan buku jari di telapak tangan. Bagi keduanya, metode sentuhan masih bisa ditangkap dengan baik. "Jadi sifatnya seperti bahasa isyarat, setiap sentuhan memiliki satu kata. Saat ini, sudah ada 36 kata atau ucapan sehari-hari yang sudah dibuat," ucapnya saat ditemui usai menerima penghargaan.

Pembuatan IDBC System, menurut Dini, berawal dari keinginannya melihat siswa tunanetra dan tunarungu di sekolahnya bisa berinteraksi tanpa membutuhkan orang lain sebagai perantara. Awalnya, tepatnya pada 2016, ia menggunakan sandi morse sebagai media komunikasi. Namun, pada prosesnya, penggunaannya tidak terlalu efektif karena sulit dihafalkan. Menjawab permasalahan tersebut, ia pun mencoba mencari ide lain. Ide pun muncul saat ia dan beberapa siswa SLB mengikuti camp komunikasi di Lembang pada awal 2019.

"Ternyata yang lebih mudah bagi mereka adalah dengan sentuhan yang gerakannya berdasarkan pada pengalamannya berkomunikasi. Sentuhan yang dilakukan mereka untuk berinteraksi di kegiatan tersebut kita tampung, lihat, dan ujikan satu per satu," paparnya.

Meski berhasil menyabet juara I, namun guru kelahiran Bandung, 8 Desember 1983 ini masih akan terus berinovasi. Guru yang tengah mengejar gelar doktor di Universitas Pendidikan Indonesia itu mengaku sedang menyusun penelitian dan menggagas teori pendekatan pembelajaran yang baru agar mudah diserap oleh siswa berkebutuhan khusus. "Ini bisa jadi antitesis bagi teori lama. Bisa membuat anak mempelajari sesuatu lebih cepat," tutup guru peraih juara Guru SLB Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Provinsi Tahun 2018 ini.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar