Gotik, Batik Ramah Lingkungan Inovasi Siswa SMA Al Mutaqqin Kota Tasikmalaya
Siswa SMA Al Mutaqqin Kota Tasikmalaya menciptakan inovasi di bidang fashion dengan nama produk Go Green Batik (Gotik).
Gotik, Batik Ramah Lingkungan Inovasi Siswa SMA Al Mutaqqin Kota Tasikmalaya
Oleh Nizar Al Fadillah
14 November 2019, 11:52 WIB    345 views       Headline

KABUPATEN SUMEDANG, DISDIK JABAR - Siswa Jawa Barat (Jabar) tak pernah berhenti berinovasi. Kali ini, inovasi dilakukan tiga siswa SMA Al Mutaqqin Kota Tasikmalaya, Azis Saeful Zazim, Ananda Putri Aulia Mulyadi, dan Selma Rahmatul Azizah. Ketiganya merintis usaha di bidang fashion dengan nama produk Go Green Batik (Gotik). Sesuai namanya, produksi batik mereka ini terjamin ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan organik dan telah dilirik hingga mancanegara.

Hal tersebut berangkat dari kepedulian mereka akan lingkungan. "Produk kami semua berbahan alami, mulai dari kain katun yang terbuat dari kapas, kain dari ulat sutra serta pewarna berbahan secang dan daun ketapang. Ketika daun tersebut menghasilkan limbah, itu bisa dijadikan pupuk kompos. Jadi, enggak akan ada limbah yang keluar," tutur Zajim, saat ditemui usai mempresentasikan Karya Tulis Ilmiah Kewirausahaan dalam Gelar Aksi Karakter Siswa Indonesia (Galaksi) Tingkat Provinsi Jawa Barat (Jabar) Tahun 2019 di Gedung Negara Kabupaten Sumedang, Jln. Pangeran Geusan Ulun No. 36, Kabupaten Sumedang, Rabu (13/11/2019).

Selma mengungkapkan, ide pembuatan Gotik ini berawal dari penelitian yang mereka lakukan saat ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) di sekolah. Kala itu, pembina menyarankan untuk meneliti pencemaran lingkungan yang diakibatkan limbah produksi batik. "Setelahnya, kita hanya mencari cara untuk mengganti malamnya karena sumber limbah berasal dari sana. Kita buat percobaannya. Setelah itu, kita fokus pada pembuatan batik eco print yang dimulai sejak awal semester," ungkap siswa kelas XI tersebut.

Pada prosesnya, mereka sempat mengalami beberapa kendala. Ananda menjelaskan, kendala yang paling sulit adalah menentukan komposisi yang pas antara kain dengan pewarna. "Tiap bahan memiliki komposisi berbeda, sesuai dengan kualitas kain," tuturnya.

Namun, setelah terus melakukan trail and error, komposisi terbaik pun mereka dapatkan. Alhasil, produk mereka berhasil diproduksi dan diperjualbelikan. Bahkan, saat mengikuti pameran Indonesia Convention Exhibition di Serpong, Kota Tangerang, produk mereka mencuri perhatian pengunjung. "Ada pengunjung dari Rusia yang ngeborong. Ada juga dari Taiwan," ungkap Selma.

Selma mengungkapkan, ia dan kawan-kawan mendapat banyak masukan dari dewan juri di ajang Galaksi 2019 ini. Salah satunya, mereka dianjurkan segera mendaftarkan produk mereka sebagai hak kekayaan intelektual (HKI). Selain itu, mereka juga mendapat masukan untuk menentukan harga produk. Saat ini, produk yang mereka jual dibanderol Rp 300 ribu per 2 x 1,5 meter. Sedangkan untuk kerudung Rp 150 ribu per 1,2 x 1,2 meter.

"Awalnya, kita takut harga yang kita pasang terlalu mahal. Tapi, kata juri malah dibilang terlalu murah. Mungkin karena produknya menarik dan autentik," ujar Selma.

Ke depan, selain memasarkan produk melalui media sosial, Zazim berencana memasarkan produknya melalui butik-butik yang ada di Kota Tasikmalaya. "Jangka panjangnya, kita akan berusaha menjadi pembuat batik eco print nomor 1 di Indonesia," harapnya.

Bagi yang tertarik membeli, bisa memesan melalui media sosial instagram @gotiq_amq.*** 


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar