Bahasa Ibu, Penyimpan Ingatan Kolektif Suatu Daerah
Bahasa Ibu, Penyimpan Ingatan Kolektif Suatu Daerah
Oleh SAS
21 Februari 2018, 00:00 WIB    78 views       Sejarah

BANDUNG – Hari Bahasa Ibu diperingati setiap 21 Februari melalui konvensi atau hasil kesepakatan bangsa-bangsa sedunia untuk menghargai Bahasa Ibu. Menurut budayawan Sunda, Hawe Setiawan, Bahasa ibu adalah bahasa yang digunakan oleh Ibu kita di lingkungan rumah tangga untuk mendidik anak-anaknya sejak lahir.

“Bahasa ibu itu bahasa yang digunakan oleh ibu kamu, Bahasa ibu itu macam-macam, Bahasa yang digunakan oleh ibu di lingkungan rumah tangga untuk mendidik anaknya sejak lahir. Kebetulan ibu saya orang Sunda, komunikasi dengan saya menggunakan Bahasa Sunda, jadi bahasa ibu saya adalah Bahasa Sunda,” jelasnya.

Menurut Hawe, Bahasa Ibu itu belum tentu identik dengan Bahasa Daerah. Masyarakat Indonesia, khususnya dalam konteks membahas tentang Bahasa Ibu, maka sering kali disamakan dengan Bahasa Daerah. Hal itu dikarenakan ingin mengingatkan juga bahwa sebetulnya ibu-ibu di Indonesia bisa mengandalkan Bahasa Daerah untuk dijadikan Bahasa Ibu untuk anak-anaknya.

“Di Indonesia ini jika membahas yang konteksnya Bahasa Ibu selalu disamakan dengan Bahasa Daerah.  Sebetulnya mau mengingatkan, ibu itu bisa mengandalkan Bahasa Daerahnya untuk berbicara pada anaknya sesuai latar belakang kebudayaannya masing-masing. Seorang ibu memiliki peranan penting sekali, jadi itu yang dimaksud Bahasa Ibu,” ucapnya.

Bagi Hawe, momentum peringatan Bahasa Ibu menjadi salah satu kesempatan untuk banyak orang lebih menyadari pentingnya Bahasa yang digunakan, baik itu oleh seorang Ibu di lingkungan keluarga dan  termasuk pentingnya Bahasa Daerah dipelihara sebagai Bahasa Ibu. 

“Momentum peringatan Bahasa Ibu melambangkan Bahasa Daerah  yang dipelihara sebagai ‘Ibu’, atau mother language, atau biasa juga disebut Bahasa Lokal. Di Indonesia, Hari Bahasa Ibu dirayakan untuk menyadarkan banyak orang akan keberadaan dan eksistensi Bahasa Daerah, karena dikhawatirkan Bahasa Daerah sudah ditinggalkan oleh orang daerah setempat,” tegasnya.

Bahasa Ibu sebaiknya dipelihara dan diturunkan lagi kepada anak-anak, karena Bahasa Ibu bukanlah sekedar untuk berkomunikasi. Kata-kata hanyalah sebagai etalase terkait nilai budaya. Dibalik kata-kata dan dibalik penggunaan kata-kata, tersimpan juga kekayaan budaya yang sangat banyak.

Ia pun menuturkan, bahwa Bahasa ibu juga menyimpan ingatan kolektif atau ingatan bersama. Kata-kata itu hanya seperti etalase terkait nilai budaya. Jadi, dibalik kata-kata, dibalik penggunaan kata-kata itu ada kekayaan budaya yang sangat banyak. Kalau Bahasa Ibunya Bahasa Jawa, maka cara berpikirnya kemungkinan sama dengan cara berpikir orang Jawa. 

“Apapun Bahasa ibunya, untuk yang tinggal di daerah Bandung sepetinya akan lebih keren jika mempelajari Bahasa Sunda. Bahasa Daerah itu keren, tidak identik dengan Bahasa terbelakang. Setiap Bahasa Ibu itu keren,” pungkasnya.  


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar