Mengenang Sosok Tokoh Pendidikan Daoed Josoef
Mengenang Sosok Tokoh Pendidikan Daoed Josoef
Oleh SAS
05 Februari 2018, 00:00 WIB    81 views       Sejarah

BANDUNG - Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan era presiden Soeharto, sekaligus tokoh pendidikan Indonesia Daoed Joesoef berpulang ke hadapan sang pencipta di usianya yang ke 91 tahun karena penyakit jantung yang sudah ia derita sejak lama, pada Selasa (23/1/2018) sekitar pukul 23:55 WIB di RS Medistra, Jakarta Selatan. Jenazah Daoed Joesoef dimakamkan di Pemakaman Giri Tama, Bogor.    

Selama ia menjabat sebagai Menteri, Daoed berupaya menjadikan pendidikan sebagai pembentuk jiwa kemanusiaan. Bagi Daoed, pendidikan bukan hanya soal mencetak keterampilan, tetapi juga membangun karakter sebagai manusia seutuhnya. Oleh karena itu, Daoed tak hanya mengedepankan penalaran dalam mendidik. Ia juga menekankan penanaman nilai moral agar generasi bangsa menghayati nilai-nilai kemanusiaan. Daoed juga sangat menjunjung tinggi profesi guru karena dari situlah tercipta profesi lainnya, seperti yang dikutip dari http://nasional.kompas.com   

Semasa hidupnya, Daoed memperoleh beberapa gelar. Gelar yang ia dapat adalah gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1959). Setelah itu ia meneruskan studinya ke Sorbonne, Perancis dan meraih dua gelar doktor, yakni Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional (1967) serta Ilmu Ekonomi (1973). Namun, dalam kehidupan sehari-harinya, Daoed Joesoef mempunyai kegemaran melukis.     

Selama meneruskan pendidikan di Sorbonne (1964-1973) Daoed menyusun sejumlah konsep penyelenggaraan dengan pendekatan multidisipliner, yang didalamnya mencakup pertahanan keamanan, pembangunan pendidikan, dan pembangunan ekonomi nasional. Pada masa itu pula, Daoed berhasil mengajak UNESCO untuk membiayai pemugaran Candri Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. 

Menurut Daoed, Borobudur telah menunjukan pada dunia bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang ecek-ecek. Sebelum bangsa ini merdeka pun, bangsa ini telah mampu membangun Borobudur yang didalamnya mencakup banyak aspek, mulai dari historis, ekilmuan, budaya, politik, spiritual, dan arkeologis.     Daoed pun pernah menolak menerima penghargaan Bakrie Award serta hadiah uang bernilai Rp 250 juta pada Agustus 2010. Rasa kemanusiaannya lah yang menjadi alasan penolakan penghargaan dan hadiah tersebut.    

Kepergian Daoed meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kepala sekolah SMA Garuda Cendekia Iwan Purnanto bercerita tentang sosok Daoed Jesoef yang tegas dalam dunia pendidikan.  "Beliau adalah sosok guru yang sempurna, tentu kami sangat merasa kehilangan, " kata Iwan.


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar