Kepala Sekolah Berprestasi, Yadi Haryadi "Sang Pendobrak"
Kepala SLBN Cinta Asih Soreang, Yadi Haryadi.
Kepala Sekolah Berprestasi, Yadi Haryadi "Sang Pendobrak"
Kepala Sekolah Berprestasi, Yadi Haryadi "Sang Pendobrak"
Oleh Nizar Al Fadillah
25 November 2020, 08:53 WIB    334 views       Headline

BANDUNG, DISDIK JABAR - Sang Pendobrak. Julukan tersebut pantas disematkan kepada Yadi Haryadi (58). Selama mengabdi 28 tahun sebagai guru dan kepala sekolah luar biasa (SLB), Yadi berhasil mencetuskan berbagai program baru unggulan sekolah yang ia nakhodai.

Dobrakan-dobrakan tersebut mengantarkannya sebagai kepala sekolah dengan segudang prestasi. Di antaranya, juara I Kreativitas Kepala Sekolah pada 2016, juara I Kepala Sekolah Berdedikasi dan Berprestasi Tingkat Provinsi (2016), juara Guru Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional (2016), Kepala Sekolah Terbaik tahun 2019, dan menerima penghargaan Satya Lencana tahun 2019 dari Presiden Republik Indonesia. Yadi menerima penyerahan penghargaan dari tiga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berturut-turut, mulai dari Anies Baswedan, Muhadjir Effendy hingga Nadiem Makarim.

Terbaru, Yadi didaulat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berprestasi Jawa Barat (Jabar) tahun 2020. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar) yang meraih prestasi tersebut. 

Lalu, seperti apakah dobrakan yang dibuat kepala sekolah kelahiran Bandung, 6 Agustus 1962 ini?

Tiga Sekolah, Tiga Dobrakan Berbeda

Sejak diangkat menjadi kepala sekolah pada 2004, ayah tiga anak tersebut sudah memimpin tiga SLB berbeda. Mulai dari SLB PGRI Karya Winaya Pamanukan Kabupaten Subang (2004-2012), SLBN Subang (2012-2020), dan SLBN Cinta Asih Soreang (2020-sekarang). Tiga sekolah tersebut merasakan dobrakan program yang berbeda-beda darinya. 

Yadi menjelaskan, dobrakan yang ia lakukan di SLB PGRI Karya Winaya adalah perbaikan gedung sekolah. Sebab (saat itu), jika musim hujan tiba, sekolah dan bangunan di sekitarnya pasti terkena banjir. 

"Di sana (saat hujan) pasti banjir. Malam hari walau pukul 12 malam saya pasti ke sekolah karena pasti banjir," tuturnya saat ditemui di SLBN Cinta Asih Soreang, Jln. Nyalindung No. 91 Kabupaten Bandung, Selasa (24/11/2020). 

Agar kejadian tersebut tak terulang, Yadi berusaha memperbaiki gedung sekolah dengan menggandeng beberapa pihak untuk bekerja sama, mulai dari pemerintah daerah, provinsi, dan pihak lainnya. 

"Akhirnya, setelah mendapat perhatian dan dorongan berbagai pihak, proses pengurukan tanah dilakukan. Kita membangun sampai 2009 dan alhamdulillah tidak terjadi lagi banjir karena bangunan sudah ditinggikan," ungkapnya.

Sedangkan saat menjadi kepala di SLBN Subang, Yadi mencetuskan program magang bagi para siswa. Tujuan magang tersebut bertujuan melatih kemandirian siswa. Awalnya, magang hanya dilakukan di lingkungan terdekat siswa.

"Kita laksanakan saja di dekat lingkungan sekolah. Seperti (memagangkan anak) di rumah makan, salon, tempat pencucian motor hingga bengkel. Alhamdulillah, respons warga sekitar sangat menerima," ujarnya. 

Seiring berjalannya waktu, program magang tersebut mulai berkembang. Didukung Undang-undang Nomor 4 tahun 1997 yang telah amandemen menjadi Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, perusahaan-perusahaan memiliki kewajiban melibatkan penyandang disabilitas. 

"Alhamdulillah, ada perusahaan Jepang yang tertarik ke kita. Awal MoU ditandatangani, ada 3 orang yang bekerja di sana. Sedangkan berdasarkan data terakhir, sudah sampai 70 siswa yang diterima. Sebagian besar adalah penyandang tunarungu dan yang lainnya tunagrahita," tutur Yadi, seraya menambahkan, para siswanya tersebut menjadi pegawai di perusahaan kabel bodi di daerah Subang. 

Sedangkan dobrakan di SLBN Cinta Asih, Yadi memfokuskan pada pengembangan keterampilan siswa. Dobrakannya kali ini dikonsep sebagai kewirausahaan disabilitas. 

Sama seperti program di sekolah sebelumnya, program tersebut menjadi bekal untuk kemandirian siswa. Kelas kewirausahaan ini telah dimulai dengan tetap menerapkan protokol kesehan di lingkungan sekolah.

"Terlebih di masa pandemi ini, anak-anak kan merasa bosan dan tidak melakukan aktivitas apa-apa di rumah. Kewirausahaan ini akan menunjang mereka ketika lulus kelak," katanya. 

Ia menuturkan, ada lima kompetensi kewirausahaan yang dikembangkan, yakni tata boga, kecantikan, informasi teknologi (IT), menjahit, dan kerajinan. 

Sedangkan di bidang tata boga, SLB Cinta Asih membuat hidangan berupa camilan dan makanan yang biasa disajikan ketika ada kegiatan/acara, baik untuk sekolah atau pihak lain. Untuk bidang IT, difokuskan dalam pembuatan desain grafis, bidang kerajinan dikembangkan untuk membuat alat rumah tangga seperti keset dan masker kain, bidang menjahit membuat baju, dan bidang kecantikan membuka salon di sekolah.

"Jadi, sistem di sekolah ini adalah moving class. Semua kompetensi kewirausahaan sudah memiliki kelasnya masing-masing," tambahnya.

Dengan digandengnya perusahaan dan pihak lain untuk mengembangkan program tersebut, Yadi kembali membuktikan bahwa dobrakannya selalu tepat. 

Semua Anak Memiliki Potensi 

Bagi Yadi, seluruh siswa memiliki potensi. Sekecil apapun potensi yang dimiliki, SLB harus terus berusaha menggali potensi tersebut. 

Sebab, Yadi meyakini, tugas guru SLB bukan hanya fokus pada belajar mengajar, melainkan menyiapkan anak agar bisa mandiri setelah lulus. Sehingga, ia mengajak seluruh guru untuk memberi perhatian lebih bagi masa depan siswa.

"Sebagai guru dan kepala SLB, kita harus perhatikan nasib siswa. Jangan hanya fokus mengajar, tetapi sebisa mungkin membantu mempersiapkan masa depan anak setelah lulus," tuturnya.

Kepala sekolah yang aktif di organisasi Pramuka itu pun menceritakan pilihan hidupnya sebagai guru di SLB. Semua dimulai dari suara hati.

"Ketika saya belajar (saat kuliah) tentang sekolah khusus, saya tergerak memperjuangkan nasib anak-anak SLB. Ini murni iktikad baik saya bagi SLB," tutupnya.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar