SMA Negeri 9 Bandung Perketat Penilaian Uji Kompetensi Demi Hindari Kecurangan
SMA Negeri 9 Bandung Perketat Penilaian Uji Kompetensi Demi Hindari Kecurangan
Oleh Sofia Khansa
25 Juni 2018, 10:15 WIB    114 views       PPDB

BANDUNG, DISDIK JABAR - Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah sampai pada tahap ketiga yaitu verifikasi lapangan. Kepala sekola SMA Negeri 9 Bandung, Agus Setia Mulyadi menjelaskan proses kegiatan verifikasi dan kegiatan Uji Kompetensi yang sedang berlangsung saat ditemui di SMA Negeri 9 Bandung, Jalan LMU I Suparmin No. 1 A, Bandung, Jawa Barat.

Jalur Warga Penduduk Sekitar (WPS) dan jalur Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM)

Agus Setia Mulyadi menjelaskan, pada proses verifikasi jalur WPS sangat diperhatikan dokumen-dokumen yang telah didilampirkan oleh para calon peserta didik, seperti Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Pengenal (KTP) orang tua. Jumlah pendaftar jalur WPS 

“ Kalau untuk jalur WPS, kita memperhatikan dokumen-dokumen yang sudah dilampirkan seperti KK dan KTP orangtua dari para calon peserta didik,” ujar Agus memaparkan.

Agus menambahkan, pada seleksi jalur KETM SMA Negeri 9 Bandung mengalami over kuota, dikarenakan kawasannya yang merupakan kawasan padat penduduk, sehingga kemungkinan siswa yang dibebaskan dari biaya akan lebih dari 30%. Dengan itu, pihak panitia mencoba mengembangkan penilaian berdasarkan kondisi status calon peserta didik dengan mengadakan home visit.

“Jalur KETM kali ini kita mengalami over kuota, akhirnya kita coba untuk mengembangkan penilaian berdasarkan kondisi orangtua, kondisi rumah, dan status calon peserta didik. Kami membentuk team untuk home visit yang jumlahnya 12 orang,” jelas Agus.

Tanu Patrayana selaku Ketua Panitia, membenarkan jika jalur KETM SMA Negeri 9 Bandung mengalami over kuota, jumah pendaftar mencapai 113 orang, dari batas yang sudah ditentukan yaitu 57 orang.

 “Jalur KETM, kita melebihi kuota jumlahnya hingga 113 orang pendaftar, dari batas yang sudah ditentukan yaitu 57 orang,”ujar Tanu.

Uji Kompetensi, Jalur Prestasi Bidang Olahraga

Selain jalur WPS dan KETM, ada pula jalur prestasi. Agus menjelaskan kembali bahwa ada beberapa cabang yang akan diujikan dan dinilai, diantaranya dari cabang olahraga ada basket, futsal, karate, taekwondo, pencaksilat, paskibra, pramuka, tahfidz qur’an, dan kesenian. Berbeda dengan jalur KETM, jumlah pendaftar jalur prestasi hanya 41 orang dari batas penerimaan yang sudah ditentukan yaitu 59 orang.

“Ada beberapa cabang yang akan dujikan dan kemudian dinilai, dari cabang olahraga, ada basket, futsal, karate, taekwondo, pencaksilat, ada pula paskibra, pramuka, tahfidz qur’an dan kesenian. Kebetulan daftar calon peserta didiknya hanya mencapai angka 41 dari target 59 orang ,” jelas Agus.

 

Uji Kompetensi cabang olahraga, diperketat penilaiannya hingga melibatkan guru dan para alumni yang mengikuti ekstrakurikuler yang diujikan, dikarenakan pada beberapa tahun lalu ditemukan kecurangan pada calon peserta didik yang melampirkan sertifikat palsu.

 

“Semua cabang olahraga diuji kebugarannya, sehingga tidak hanya cabangnya saja yang diujikan tapi fisiknya harus pula diperhatikan. Jangan sampai terulang seperti tahun-tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan sertifikat, sampai akhirnya ditemukan kecurangan-kecurangan seperti dilampirkannya sertifikat palsu,” ujar Agus.

Uji Kompetensi, Jalur Prestasi Bidang Seni

Serupa dengan jalur prestasi cabang olahraga, jalur prestasi cabang seni tak hanya diuji prestasinya. Yudhi Setiabudi selaku coordinator jalur prestasi seni, menjelaskan, bahwa sebelum diuji para calon peserta didik akan ditest pengetahuan umum sesuai prestasi yang mereka miliki. Ada beberapa cabang seni yang akan diujikan, diantaranya angklung, tari, teater, vocal.

“Sebelum prestasi mereka kami uji, terlebih dahulu kita melakukan test pengetahuan umum. Misalnya, jalur prestasi angklung, kami sudah menyediakan pertanyaan yang harus mereka jawab, seperti bagaimana sejarah angklung, tokoh-tokohnya siapa saja, lalu pernah perform dimana saja, selanjutnya akan kami sesuaikan dengan sertifikat yang dilampirkan. Lalu nanti kita praktek, kemudian kita rekam,” jelas Yudhi.

Tags  kompetensi pendidikan Ekonomi Tidak Mampu 

 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar