Netty: Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Netty: Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Oleh Siti Maryam Delina F
08 Mei 2018, 00:00 WIB    82 views       Kegiatan

BANDUNG, DISDIK JABAR- Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Heryawan, diampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi, berkunjung ke SMAN 2 Ciamis, Jalan KH Akhmad Dahlan No.2, Linggasari, Ciamis, Selasa, 8 Mei 2018. Netty memberikan pengarahan kepada siswa dan guru tentang pentingnya penerapan Sekolah Ramah Anak.

“Sekolah Ramah Anak harus diterapkan di sekolah. Yang jelas kita memastikan tidak ada kekerasan di sekolah kepada anak,” ujar Netty.

Netty menegaskan, pendidikan merupakan hak seluruh anak di Indonesia. Menurut dia, sekolah ramah anak adalah jalan agar anak mendapatkan hak pendidikan tanpa diskriminasi apapun dari sekolah. 

“Kalau pun ada anak yang memiliki masalah pribadi, sekolah justru sedapat mungkin memastikan hak pendidikan anak tersebut tidak hilang. Bukan mendiskriminasi anak tersebut, mengumumkan kesalahannya di depan banyak orang. Tidak boleh ada seperti itu,” tegas Netty. 

Terdapat tiga konsep Sekolah Ramah Anak yang wajib diterapkan oleh sekolah. Pertama Sekolah Ramah Anak berbasis sekolah sehat, contohnya penerapan kantin sehat, toilet bersih dan lainnya. Kedua, Sekolah Ramah Anak berbasis lingkungan, contohnya sekolah yang berlomba-lomba mendapatkan predikat sekolah Adiwiyata. Ketiga adalah Sekolah Ramah Anak berbasis tanpa kekerasan. 

“Yang seringkali terlupakan adalah Sekolah Ramah Anak berbasis tanpa kekerasan. Sekolah seharunya memiliki perlindungan kepada anak didiknya.” ujar Netty. 

Selain itu, Netty mengatakan, ada tiga unsur penting dalam penerapan Sekolah Ramah Anak. Unsur tersebut adalah pertama, hardware yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan fisik sekolah, seperti bangunan sekolah aman, perpustakaan yang ramah, adanya kantin yang sesuai, hingga jumlah toilet di sekolah. Kedua unsur software berupa kurikulum pembelajaran. Terakhir adalah Brainware, salah satunya adalah perlindungan anak dari perundungan di sekolah. Hal yang tidak kalah penting lainnya adalah pola hubungan atau interaksi guru dan peserta didik. 

“Tidak boleh ada jarak antara guru dan murid. Harus dibungun pola hubungan yang baik. Apalagi guru adalah orang tua kedua saat siswa berada di sekolah. Tapi siswa pun harus menghormati guru. Berbicara dengan bahasa yang sopan,” ujar Netty.***


 Komentar (0 komentar)


 Balas Komentar


:

 Email, No.Telepon/HP serta Alamat Anda tidak akan dipublikasi.
 Terima kasih, komentar sedang dalam proses antrian.

 


 Belum ada komentar