Disdik Jabar siapkan 1.200 Sekolah Inklusif

Kota Bandung – Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) menargetkan 1.200 sekolah inklusif di Jabar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di tahun 2018. Selain itu, Disdik Jabar juga akan terus konsisten untuk memberi beasiswa bagi guru ABK.

Kabid Pendidikan Khusus Luar Biasa Disdik Jabar, Dadang Rahman mengatakan, program tersebut bekerja sama dengan sejumlah lembaga yang mempunyai program CSR. Sementara beasiswa bagi guru ABK alokasi anggarannya sama dengan guru secara umum. 

“Saat ini Jabar memiliki 455 sekolah inklusi dari jenjang SD hingga SMA dengan 945 ABK. Kami juga memberi beasiswa untuk guru ABK dengan anggaran Rp 23 milar di tahun 2017," ungkap Dadang, Sabtu (26/8/2017).

Beasiswa untuk guru ABK, lanjut Dadang akan digabung dengan beasiswa untuj 3.000 mahasiswa asal Jabar dengan kategori pemuda, atlet/keluarga atlet, dan tenaga medis. 

Ia menambahkan, jumlah anak disabilitas yang bisa mengakses sekolah umum di Jawa Barat hanya 22,4 persen. Sementara itu, mayoritas dari mereka bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Oleh karenanya, kata Dadang, Disdik Jabar menargetkan 1.200 sekolah inklusif yang dapat menampung 60 ribu siswa berkebutuhan khusus termasuk anak disabilitas dengan sistem pendidikan yang berkualitas di tahun 2018.

“Di Jabar, anak usia sekolah dengan disablitas mencapai 189 ribu anak, tetapi hanya 21.000 yang sudah sekolah di 358 SLB dan 5.000 anak yang belajar di 455 sekolah inklusif yang ada di kota dan kabupaten di Jabar. Artinya, angka partisipasi sekolah anak dengan disabilitas di Jabar baru mencapai sekitar 12 persen,” ujarnya.

Menurutnya, beasiswa bagi guru ABK bertujuan agar tenaga pendidik yang ahli menangani ABK di sekolah inklusi merata. Oleh sebab itu, sekolah inklusif harus dimaksimalkan, sehingga tidak ada lagi diskriminasi bagi anak ABK dan mereka juga bisa memasuki dunia industri dengan keterampilannya masing-masing.

“Program 1.200 sekolah inklusi dan beasiswa guru ABK dapat meningkatkan kapasitas pengelolaan, kompetensi, dan kemampuan guru. Selain itu, kami juga akan terus melakukan pemantauan dan supervisi dalam pelaksanaan pendidikan inklusif. Namun, kendala saat ini adalah masih ada guru yang belum siap untuk memberi pelajaran bagi ABK dan keluarga yang memiliki ABK pun masih ada yang lebih memilih menyekolahkan di SLB,” pungkasnya. (AFN)