CIMAHI, DISDIK JABAR — Para fasilitator tidak hanya dipersiapkan menjadi pelatih, tetapi juga pendamping yang mampu mengawal perubahan di sekolah.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat (Jabar), Purwanto saat membuka Pelatihan untuk Pelatih (PUP) Batch III Pendidikan Karakter Pancawaluya jenjang SMA, SMK, dan SLB di BBPPMPV BMTI, Kota Cimahi, Rabu (16/9/2026).
“Setiap pelatih menjadi pendamping satu sekolah. Satu semester didampingi, kemudian semester berikutnya pindah ke sekolah berikutnya,” ujarnya.
Menurut Kadisdik, pola tersebut memungkinkan pendidikan karakter Pancawaluya tidak berhenti sebagai materi pelatihan, melainkan benar-benar diterapkan dan menghasilkan perubahan yang dapat dilihat serta dirasakan warga sekolah.
Mulai dari Sekolah Sendiri
Kadisdik menekankan, perubahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Sebelum mengimbaskan praktik baik kepada sekolah lain, fasilitator harus terlebih dahulu memastikan sekolah asalnya mengalami pembenahan.
“Jangan sampai kita melatih orang lain, tetapi sekolah kita sendiri belum berubah. Selesaikan dulu masalah di sekolah sendiri. Bikin desain pembelajarannya benar, tata lingkungannya benar, dan budaya sekolahnya benar,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter Pancawaluya harus hadir dalam seluruh ekosistem sekolah, mulai dari pembelajaran, lingkungan, kebiasaan hingga budaya warga sekolah.
Berbagai persoalan di lingkungan sekolah, lanjutnya, dapat menjadi sumber belajar. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman sehat, pengelolaan sampah, penghijauan hingga pemanfaatan lahan sekolah dapat dikembangkan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
“Sudahkah kantin kita terkoneksi dengan pembelajaran? Sudahkah sampah yang dihasilkan sekolah menjadi inspirasi pembelajaran? Ini persoalan pendidikan kita,” ungkapnya.
Kadisdik pun mencontohkan pengembangan pendidikan berbasis lingkungan di Purwakarta melalui arboretum bambu, sekolah ekologi, dan Mandala Karsa. Berbagai inisiatif tersebut tumbuh melalui kolaborasi antara guru, mahasiswa, perguruan tinggi, komunitas, dan unsur sekolah lainnya.
Satu Fasilitator, Satu Sekolah Pendamping
Melalui PUP Batch III, Disdik Jabar menargetkan semakin luas jangkauan pendampingan pendidikan karakter Pancawaluya di satuan pendidikan.
Kadisdik berharap, setiap fasilitator dapat mendampingi sekolah yang berada di sekitar tempat mereka bertugas sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara langsung, konsisten, dan berkelanjutan.
“Kalau satu fasilitator menghasilkan satu sekolah yang berubah maka akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Kalau dilakukan secara konsisten, perubahan itu akan menyebar ke semakin banyak sekolah,” terangnya.
Kadisdik pun mengingatkan agar fasilitator membawa praktik nyata, bukan sekadar teori. “Jangan sampai hanya ngomong. Harus ada praktik baik. Besoknya, sekolah itu harus mulai melakukan,” tegasnya.
Sejalan dengan Pembelajaran Mendalam
Kadisdik menilai, pendidikan karakter Pancawaluya memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pembelajaran mendalam, khususnya dalam pemanfaatan lingkungan belajar, kemitraan pembelajaran, teknologi digital, dan praktik pedagogis.
Menurutnya, teknologi memberikan akses pengetahuan secara cepat. Namun, pembentukan karakter, kesadaran, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan menghadapi persoalan nyata membutuhkan ekosistem pendidikan yang mendukung.
“Pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja. Tantangan kita adalah bagaimana membangun karakter anak-anak kita,” ujarnya.
Ia berharap, para fasilitator mampu menjadi penggerak yang menjadikan sekolah bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang yang aman, sehat, ramah, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Harapan orang tua ketika anaknya masuk sekolah harus kita jawab dengan baik, dengan menyiapkan ekosistem sekolah yang benar. Sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang anak-anak kita,” tuturnya.
100 Fasilitator, Tiga Peran Strategis
Sementara itu, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdik Jabar, Ervin Aulia Rachman menjelaskan, PUP Batch III merupakan bagian dari strategi memperkuat dan memperluas kapasitas fasilitator pendidikan karakter Pancawaluya.
Sebelumnya, implementasi pendidikan karakter Pancawaluya telah dilakukan melalui in-house training pada jenjang SMA, SMK, dan SLB. Rekrutmen fasilitator kemudian dilakukan secara terbuka untuk menjaring pelatih dari berbagai latar belakang yang memiliki komitmen terhadap pendidikan karakter.
“Diharapkan, para fasilitator mampu menjalankan peran sebagai pelatih, pendamping, dan penggerak pendidikan karakter Pancawaluya di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Dimulai dari Keteladanan
Bagi peserta PUP Batch III, menjadi fasilitator berarti siap menjadi bagian dari proses perubahan.
Salah seorang peserta, Upia Nuraeni mengatakan, pendidikan karakter Pancawaluya merupakan proses menumbuhkan karakter warga sekolah melalui nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer.
“Pendidikan karakter Pancawaluya adalah sebuah proses untuk menumbuhkan karakter warga sekolah. Bukan hanya memahami konsep, tetapi bagaimana nilai tersebut menjadi kebiasaan dan dilakukan setiap hari dalam kondisi berkesadaran,” tuturnya.
Ia menyadari, tugas fasilitator tidak sekadar menyampaikan materi. Keteladanan harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.
“Sebelum mengimbaskan keilmuan yang saya peroleh, saya ingin mengimplementasikannya terhadap diri sendiri, kemudian terhadap ruang lingkup terkecil, yakni satuan pendidikan,” ucapnya.
Upia berharap, para fasilitator PUP Batch III dapat menjadi teladan sekaligus penggerak perubahan di sekolah masing-masing.
“Pendidikan Pancawaluya harus menjadi kebutuhan, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan atau pelatihan. Ini adalah pendidikan karakter untuk membangun pribadi yang sejati, dilakukan setiap hari tanpa keterpaksaan dan dalam kondisi berkesadaran,” tuturnya.
Sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan yang digelar selama tiga hari, mulai tanggal 15–17 September 2026. Peserta terdiri dari 34 orang jenjang SMA, 42 SMK, dan 24 SLB. Para peserta mendapatkan penguatan dari sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Jejen Saripudin dari Universitas Pendidikan Indonesia serta Mohamad Rijal dan tim dari Self Learning Institute (SLI).
Pelaksanaan PUP Batch III juga mendapat dukungan dari Kepala BBPPMPV BMTI.***

.webp)
.webp)
.webp)
.webp)

.webp)
.webp)
.webp)