Berita Dinas Pendidikan Jawa Barat

Dari “Iyain Dulu Aja” Hingga Raih Emas LKS Nasional, Kisah Adelya Taklukkan Dunia Cloud Computing

Dari “Iyain Dulu Aja” Hingga Raih Emas LKS Nasional, Kisah Adelya Taklukkan Dunia Cloud Computing

Dari “Iyain Dulu Aja” Hingga Raih Emas LKS Nasional, Kisah Adelya Taklukkan Dunia Cloud Computing
1790675692448-1000734098.webp
1790675692591-1000734096.webp
1790675692731-1000734100.webp
1790675692864-1000734102.webp
Siswi kelas XII RPL 1 SMKN 13 Bandung, Adelya Fauzi Alfian meraih medali emas LKS SMK Tingkat Nasional 2026.
Sep 29, 2026 09:54:53 Nizar 1167 Views

BANDUNG, DISDIK JABAR — Adelya Fauzi Alfian awalnya tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri sebagai peraih medali emas Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional 2026.

Siswi kelas XII RPL 1 SMKN 13 Bandung itu bahkan mengaku kalau jurusan rekayasa perangkat lunak (RPL) tak pernah benar-benar ia cintai.

Kini, di usia 17 tahun, Adelya justru berhasil menorehkan prestasi nasional melalui mata lomba komputasi awan, bidang yang sebelumnya tidak begitu ia kenal. 

Kemauan Mencoba

Perjalanan itu bermula ketika ia menerima sebuah kesempatan dari gurunya, Pratiwi untuk mempelajari cloud computing.

“Awalnya saya tidak punya skill apa-apa di bidang komputasi awan maupun IT. Kemudian, pembimbing saya, Ibu Pratiwi menawarkan kesempatan yang sangat berharga. Akhirnya, saya mencoba, modal nekat,” ujar Adel saat ditemui di sekolah, Selasa (29/9/2026).

Dari keputusan sederhana untuk mencoba itu, Adel lalu menjalani proses latihan selama lebih dari satu tahun. Ia mempelajari berbagai modul cloud computing, mengikuti tahapan kompetisi dari tingkat daerah hingga nasional. Sekaligus membangun kemampuan teknis dan mental untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Perjalanan menuju tingkat nasional tidaklah mudah. Setelah meraih prestasi di tingkat kota dan provinsi, ekspektasi terhadap Adel semakin besar.

Di titik itu, Adel merasa doa dan harapan yang diberikan padanya untuk menjadi yang terbaik di tingkat nasional malah hadir menyerupai tekanan. Ia tak menampik kalau mentalnya sempat drop pada proses menuju nasional.

Namun, pada akhirnya ia menyadari tekanan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang membuatnya semakin berkembang.

“Saya mengingat kembali tujuan saya dari awal, yaitu memenangkan kompetisi ini, terus berjuang lebih baik, dan menjadi diri saya sendiri yang lebih baik. Saya mengevaluasi diri dan mengembangkan kemampuan lagi. Ambisi saya untuk mencapai tujuan itu lebih besar daripada rasa menyerah saya,” tuturnya.

Di tingkat nasional, Adelya harus menyelesaikan tiga modul yang berkaitan dengan teknologi cloud. Salah satunya, DevOps CI/CD dengan menggunakan platform AWS. Kemudian, Infrastructure as a Service (IaaS) yang menuntut kemampuan membangun, sekaligus memperbaiki infrastruktur serta modul yang berkaitan dengan data dan implementasi machine learning.

Bagi Adelya, tantangan tersebut menjadi pengalaman baru yang jauh berbeda dari titik awal ketika ia belum memiliki kemampuan di bidang tersebut.

Ia mengaku, saat masih duduk di bangku SMP, ketertarikannya justru lebih dekat dengan akuntansi. Pilihan masuk RPL pun bukan sesuatu yang sejak awal direncanakan.

Namun, setelah berada di lingkungan tersebut, Adelya memilih untuk tidak terus-menerus mempersoalkan pilihannya. Ia mulai melihat kesempatan buat berkembang.

“Saya tidak ingin selamanya menyesal atas pilihan ini. Saya mau bisa dan mau berkembang. Ketika ada kesempatan yang datang, saya tidak ingin menyia-nyiakannya,” katanya.

Pecah Telur Emas

Setelah empat tahun perjalanan LKS di sekolahnya, medali emas yang diraih Adelya menjadi pencapaian penting bagi SMKN 13 Bandung. Sebelumnya, sekolah tersebut pernah meraih medali perak pada 2023.

Bagi Adelya, keberhasilan tersebut menjadi pengalaman yang sangat melegakan.

“Perasaannya melegakan sekali tentunya. Karena, setelah sekian hal yang saya lakukan, usahakan, dan setiap proses yang sangat susah, akhirnya berujung hasil yang memuaskan,” ujarnya.

Di luar aktivitas kompetisi dan pembelajaran RPL, Adelya yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara ini juga memiliki hobi membaca novel.

Setelah lulus dari SMKN 13 Bandung, ia ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan tetap mendalami bidang cloud computing.

Ia juga berharap dapat melanjutkan pendidikan di Universitas Padjadjaran dengan mengambil bidang yang masih berkaitan dengan kemampuannya saat ini.

Salah satu inspirasinya adalah alumni bernama Nurizal yang sebelumnya meraih medali perak dan kemudian menekuni bidang cloud developer.

Bagi Adelya, pencapaian di LKS Nasional 2026 bukan akhir dari proses. Medali emas justru menjadi pijakan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan.

“Jangan pernah takut punya mimpi yang terlalu besar. Jangan pernah takut mengambil setiap kesempatan yang ada. Langsung ambil aja, langsung ikutin aja alurnya,” pesannya.

Tumbuhkan Potensi

Guru sekaligus pembimbingnya, Pratiwi mengungkapkan, kemampuan Adelya tidak langsung terlihat dalam bentuk prestasi. Ada potensi kecil yang menurutnya perlu diberi ruang untuk berkembang.

“Saya percaya, di setiap sekolah akan ada Adel-Adel lainnya yang menunggu untuk ditemukan dan diberi kesempatan,” ungkapnya.

Pratiwi mengatakan, dirinya tidak pernah memberikan tekanan kepada Adelya untuk menjadi juara. Ia hanya meminta siswinya memberikan kemampuan terbaik.

“Kamu cukup melakukan yang terbaik. Ibu percaya, dengan Adel melakukan yang terbaik, itu sudah lebih dari cukup,” katanya.

Pendekatan tersebut membuat Adelya berani mengambil tantangan. Dalam proses pembinaan, ia dikenal dengan semangat, “Iyain aja dulu". Dengan menerima kesempatan, mencoba, kemudian belajar dari proses yang dijalani.

Bagi Pratiwi, sikap tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kemampuan Adelya terus berkembang.

“Saya kasih tantangan pertama, dia coba dan berhasil. Setelah itu, rasa ingin tahunya semakin meningkat. Meskipun dia bilang tidak bisa, ternyata bisa,” pungkasnya.***

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Memuat komentar...